Setiap
pribadi memilki pandangan yang berbeda mengenai sesuatu, dan seseorang juga
dapat memiliki perspektif yang berbeda. Seseorang yang bijaksana bukan hanya
memandang menurut pandangan mereka sendiri, namun juga menempatkan melalui
sudut pandang orang lain. Selalu ada alasan mengapa seseorang meyakini perspektif
mereka, baik adanya bukti nyata maupun pendalaman dari pemikiran logis mereka. Coba
perhatikan gambar di bawah ini.
biarkan kehidupan ini bercerita dan diri sendiri menjadi pemain utama, tanpa skenario, tanpa sandiwara. penuh realita dengan Sang Pencipta sebagai sutradara....
Tampilkan postingan dengan label Senyum Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Senyum Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Relasi si Semut Merah
Empat semut merah berkerumu merayap melewati dinding dan berjalan naik beriringan sembari membawa secuil biskuit, mereka ingin mengangkut biskuit tersebut ke sarang mereka. Ada seekor semut yang mulanya ikut berkerumu dalam kelompok semut tersebut, tiba-tiba keluar dari kerumuan. Semut itu diam sejenak dan berdiri di luar kerumuan sambil memperhatikan semut-semut lain
Kisah Sang Pendaki
Puncak
gunung memikat para pendaki untuk bertarung menaklukannya. Puncak yang
penuh panorama keagungan yang Esa, memaparkan secara nampak ciptaan tangan Sang
Pencipta. Betangan warna hijau mewarnai pemandangan diatas puncak ratusan meter
dari permukaan air laut itu, diserasikan dengan perbedaan nuansa atmosfir
diatas sana. Kesejukan udara yang tak terelakkan lagi. Tidak ada satu pun yang
memungkiri kuasa Sang Pencipta lewat mahakarya indah ciptaannya. Namun, tak
mudah bagi seseorang untuk mengecap keindahan itu secara langsung. Bukan suatu
hal yang sekejap dapat dinikmati, tanpa melewati proses. Keberanian dan tekad
menjadi senjata utama dalam mengarungi panorama sang puncak. Bukan lagi jalanan
mulus yang dihadapi, namun jalanan terjal dihimpit jurang-jurang menganga yang
mengiringi. Ini sebuah kisah tentang sang pendaki.
Dipandangnya
puncak gunung itu. Dimatanya tergambar, kawasan biru muda yang memuncak
mencakar langit nampak begitu dekat dimatanya. Namun, saat setiap langkah yang
dia jalani, belum juga mencapai kawasan yang semula nampak didekatnya. Mungkin
beberapa langkah lagi, gumam sang pendaki penuh antusias. Langkahnya terus
berlanjut menyususri jalanan yang mulai mendaki. Namun, tak kunjung juga dia
menyentuh puncak menawan tersebut, kawasan biru muda itu masih saja terlihat
dihadapannya. Ah… barangkali beberapa waktu perjalanan lagi aku akan sampai ke
puncak itu, gumam sang pendaki. Setiap detik sang pendaki melangkahkan kakinya
menyusuri jalanan berbatu kapur penuh tebing dikedua sisinya. menit demi menit berlalu, sang pendaki masih
penuh semangat melangkahkan kaki-kaki kekarnya. Hingga beberapa jam pun berlalu, sang pendaki berhenti, menghela
nafas sejenak. Dilihatnya lingkungan sekitar tempatnya berdiri. Berapa jauh dia
melangkah? Ditengoknya ke belakang, nampak satu lembah tempat dia mulanya
berdiri. Hah, sejauh ini aku melangkah namun tak kunjung pula aku sampai ke
puncak, keluh sang pendaki. Kemudian dipalingkan mukanya ke atas, nampak bukit
padang rumput bercampur semak diselingi pepohonan rindang. Matanya menangkap
puncak biru muda itu dilihatnya mengecil, tidak sama dengan pandangan pertama
dia melihatnya. Semangatnya seolah kembali memulih seperti semula, kaki-kakinya
yang terasa lunglai seolah kembali kekar dan kelelahannya pu tak terasa. Sang pendaki kembali melangkah. Ditatapnya
tajam puncak biru muda yang menjadi tujuannya itu.
Pada
akhirnya, sang pendaki sampai di puncak yang ia kagumi dan ia idam-idamkan. Nafasnya lega melihat panorama keindahan alam
sekitarnya. Dipandangnya pula jejak-jejak kakinya yang merupakan pengorbanan
demi mencapai puncak tersebut. Dibentangkan kedua tangannya, menikmati angin
yang berhembus perlahan melewati berbagai sisi tubuhnya. Sang pendaki menghabiskan beberapa waktunya
dipuncak pegunungan itu. Hingga tiba waktunya sang pendaki tersadar, bahwa dia
harus kembali. Menuruni tebing-tebing yang telah ia daki, lewati jalanan curam
yang telah dia taklukan. Berada terus di ketinggian hanya akan membuatnya
merasa kesepian. Baiknya aku segera turun membaur dengan dunia yang
meanaunginya, pikir sang pendaki.
Kehidupan
ini layaknya mendaki punvak pegunungan. Kemenangan, keberhasilan, kesuksesan
atau kejayaan bukan sebagai suatu hal instan yang dalam sekejap mudah untuk
didapatkan. Proses merupakan jalan yang wajib ditempuh dalam meraihnya, waktu
pun menjadi gandengan yang menawarkan kita peluang dan kesempatan. Keberanian,
kepercayaan, komitmen yang kemudian direalisasikan sebagai bekal dan landasan
untuk bertindak. Barangkali terkadang merasa lelah karena tujuan yang
diharapkan tidak kunjung nampak. Namun, pandang kembali jejak-jejak yang telah
dilampaui dan pikirkan lagi betapa dekatnya dengan tujuan itu. Saat
keberhasilan itu tercapai, arogan dan kesombongan kemudian menjadi bumbu yang
tawarkan kenikmatan. Egoisme terkadang
mendominan. Namun, lihat kembali perjuangan dalam meraih keberhasilan itu,
bermula dari merangkak perlahan dari
dasar hingga kemudian mampu berdiri sendiri. Bungkukkan badan dan ulurkan
tangan, tegakkan mereka yang lemah, member makna bagi sesama.
Keep
spirit!
Luka bukan goresan
Menatap
diatas sana, nampak awan yang biru muda.
Bergelombang dan berarak secara perlahan. Ini kisah tentangnya, tentang awan yang berarak melawan kelam berikan
perubahan.
Dia
tidak bermegah dalam tahtanya yang ditakdirkan berada diatas sana, karena dia
mengikuti desiran angin disana yang membawanya bergerak perlahan. Seperti kehidupan
ini, tidak ada satu mahkluk pun yang paling berkuasa dan terhebat di bumi ini. Tidak
ada yang bermegah dalam keegoisannya dan menutup pintu rapat-rapat dengan dunia
sekitar. Menjalin relasi dengan lingkungan sekitar itu tidak merugikan, karena
mereka yang membuat diri kita mampu berkembang. Tidak ada satu anak pun yang
mampu berkembang tanpa campur tangan berbagai pihak. Orang lain merupakan media
pembelajaran yang sederhana namun begitu utama. Mereka cerminan bagi diri kita
sendiri, yang menilai keberadaan kita dan mengarahkan peran kita sesuai dengan posisi kita. Kita tidak
bisa hanya berdiam dalam lingkungan yang terus bergerak. Lingkungan dan
komunitas kita yang akan menuntun kita menjadi jiwa-jiwa yang inovatif dan
berguna bagi lingkup luas.
Pandang
lagi dia. Awan itu seketika berubah, semula putih bersih berubah menjadi hitam
pekat. Dan, rintik hujan mulai
terdengar. Awan seolah menangis, menitikkan air mata yang membasahi bumi. Petir
dan halilintar pun turut menghantam bumi. Awan menumpahkan air matanya menjadi
deraian hujan deras. Kesedihan bukanlah sesuatu yang mengenakkan. Terkadang banyak
orang yang menghindar dan tidak ingin merasakan kesedihan. Apakah itu cukup
ideal? Kehidupan ini selalu memiliki dua sisi. Ada panjang, ada pendek. Ada tua,
ada muda. Ada senang, ada sedih. Ada mudah, ada susah. Semua berpasangan begitu
kompak walaupun keduanya saling berlainan. Namun, semua menjadi tampak bermakna
saat variasi dar berbagai rasa itu kita alami. Akan sangat membosankan bila
selama kita hidup hanya menikmati rasa senang terus menerus. Bukankah itu akan
menjenuhkan? Namun terkadang, kesedihan, kesakitan dan kepahitan dapat
mengundang rasa putus ada atau bahkan kebencian. Jatuh memang menyakitkan. Jatuh
berulang kali akan mematahkan pucuk-pucuk harapan yang telah dirangkai. Akan tetapi,
jatuh adalah dasar dan langkah untuk pembaharuan. Saat jatuh, dan kemudian
berusaha untuk bangkit maka satu langkah itu merupakan satu perubahan total
pada diri kita sebelumnya. Awal langkahmu untuk bangkit merupakan
gerakan-gerakan perubahan untuk memulai hal baru dan menciptakan pribadi baru
menghadapi kejatuhan yang pernah dialami. Kejatuhan sebagai dasar dan penyokong
untuk terus maju dan melakukan pembuktian bahwa pribadi kita tidak mudah
terkalahkan oleh satu kejatuhan saja (sedih, sakit, gagal, kecewa) .
Kala
hujan turun, nampaklah daun dan pepohonan tersenyum. Mereka bergembira dan
berterima kasih pada dia yang memberinya air bagi kehidupannya. Tangisan awan
bukan lagi senandung duka bagi bumi ini, namun jendela bagi kedamaian di dunia
ini.
Duka,
sedih, kecewa, luka, kegagalan bukanlah “ending” dari cerita perjuanganmu. Masih
ada kisah baru yang telah Tuhan siapkan untukmu. Kisah yang selalu penuh
kejutan, lebih dari yang kau bayangkan. Masih beranikah kau untuk memulainya?
Keep
spirit!
Langganan:
Postingan (Atom)
