Dibalik Pintu Gereja


Gema nyanyian pujian membelah suasana syahdu gedung gereja. Mengalun lembut, mendayu-dayu. Berdesir. Jiwa-jiwa manusia memuji keagungan Sang Pencipta. Berpadu dengan nyanyian syukur sang malaikat Tuhan, memuja Sang Esa. Aku berdiri di sana. Di tepi barisan bangku nomor tiga dari belakang. Berdiri tegap dengan kedua tangan menyatu terkatup rapat. Memandang patung Sang Juruselamat yang telah disalibkan. Aku turut menyumbang suara. Walau terkadang suara ku terdengar sumbang dan tidak berpadu dengan suara paduan suara yang melengking merdu. Aku tidak enggan. Mulut ku terbuka menyuarakan nada-nada pujian yang sudah lama aku kenal. Suara ku terdengar menggema. Berguling-guling bersahutan dengan suara ratusan umat Tuhan yang bersorak gembira memuji Sang Esa. Mereka bersorak. Menggebu-gebu menyambut kehadiran Tuhan diatara umat kesayanganNya. Menyambut kasih setia yang tiada henti Dia alirkan untuk umat ciptaanNya. Mereka percaya. Tuhan hadir selalu disekitar mereka. Setumpuk beban yang mereka rasakan, kini terasa melegakan. Sebongkah permasalahan yang mereka pikul terasa ringan. Tidak ada lagi ganjalan yang akan menghalangi mereka untuk menghadap sejenak kepada yang Kuasa. Mereka lupakan. Aku pun juga. Setumpuk rasa yang mulanya
menyesakkan batin ku, kini ku biarkan hanyut. Hanyut dalam melodi-melodi kasih yang terlantun dalam gereja. Lembut. Membuai. Menyentuh jiwa-jiwa yang haus akan kehadiran Tuhan dalam hati masing-masing. Aku pun demikian. MenantikanNya. MerindukanNya.
Sang imam mempersilakan para umat untuk duduk. Sambil membenahkan posisi rok pendek yang aku kenakan, aku pun mengambil posisi nyaman, lalu duduk. Bangku terdengar berderit lirih, saat pantat ku mulai menyentuh bangku tersebut. Aku kembali fokus. Menatap jauh ke depan, memandang sang imam sambil mencerna setia kata-kata yang beliau ungkapankan saat itu. Aku menyimaknya. Memahami kata-kata yang penuh makna tersebut dan menyimpannya dalam memori hati dan pikiran ku. Dikala aku asik memperhatikan sang Imam yang berkotbah, seseorang muncul dari arah belakang dan mengambil posisi tepat berseberangan dengan posisi dimana aku duduk saat itu. Rupanya dia baru datang, dia terlambat. Dia bergegas membenahkan pakaian sambil menyibakkan rambutnya yang gondrong, lalu membuat tanda salib dan berdoa. Ahh… dia membuyarkan konsentrasi ku. Aku kembali untuk fokus dengan ekaristi yang saat itu aku ikuti. Namun, aku sedikit terganggu. Dia, yang duduk berseberangan dengan ku menyita sedikit perhatian ku. Aku mengamatinya. Memperhatikannya. Aku tersentak! Ohh.. Tuhan! Dia mirip dengan seseorang yang aku kenal. Tapi bukan! Dia bukan dia. Dia orang lain, hanya sedikit terdapat kemiripan diantara mereka. Coba aku perhatikan. Dia memakai kaca mata, sama sepertinya. Wajahnya  ‘khas’  sepertinya.
Aku sendiri tidak mengerti kenapa tiba-tiba mata ku menangkap, lalu menyimpulkan bahwa dia mirip dengan seseorang. Seseorang di masa lalu ku, yang aku sayangi, aku rindukan dan aku nantikan, namun kini telah menghilang dan pergi dari kehidupan ku. Setiap kali aku berdoa, aku selalu menyebut namanya, bukan memohon agar dia kembali pada ku, tapi aku meminta supaya Tuhan menjaganya dan memberikan dia kebahagiaan. Menjauhkannya dari rasa sakit yang selama ini dia derita dan mendekatkannya pada kasih sayang yang belum lengkap dia rasakan. Aku menyebutnya. Aku merindukan kehadirannya. Terkadang air mata ini menetes kala bersujud dalam doa ku. Aku menangis. Bukan karena aku telah kehilangan dia, bukan karena aku tidak mendapatkan kasih sayangnya. Namun….. aku pun tidak mengerti mengapa aku merasakan kesedihan ini. Barangkali aku merindukannya. Yahh… aku merindukan kehadirannya yang dulu selalu aku dapatkan. Ahhh… dia mengingatkan ku! Mengingatkan ku pada kenangan di masa lalu ku!
Aku mencoba mengelak. Toh sesungguhnya mereka tidaklah sama. Dia sedikit lebih ramping, proposional dan ideal. Yahh.. mereka berbeda! Namun, mata ku tidak dapat berbohong. Wajahnya sama sepertinya. Matanya. Tatapan mata itu sama seperti miliknya. Dalam dia aku mengingat dirinya. Dalam dia aku temukan kembali sosok dirinya. Lantunan melodi kasih kembali bergema. Mendesahkan nada-nada sendu akan kerinduan kepada sang Pencipta. Aku bergeming. Kembali dalam naungan irama-irama illahi. Aku bergumam. Terima kasih Tuhan kau izinkan mata ku untuk melihatnya. Walau dalam sosok yang lain. Dia mengobati kerinduan ku.


* * * *

Minggu sore menjadi hari yang aku nantikan. Bertemu dengan sang Ilahi sekaligus bertemu dengan sosok sang penawar hati ku. Yahh… aku menantinya. Aku menunggu untuk memandangnya. Hanya sekedar untuk melihat matanya. Aku menemukan dirinya dalam sosok lain. Paras itu. Wajah itu. Miliknya. Rutinitas di minggu sore ternyata benar. Aku dapat melihatnya. Rupanya dia juga selalu menghadiri ekaristi di hari minggu. Aku menyesuaikan. Hadir di waktu dimana aku akan bertemu dengannya. Aku menantikannya. Dia datang. Dia selalu datang tawarkan kerinduan yang aku rasakan.
Bangku itu menjadi hangat. Disitulah aku selalu menempatkan diri ku untuk melihatnya. Bangku baris ketiga dari belakang. Aku menunggu dideretan tersebut. Sesekali menatap pintu menunggu kedatangannya. Aku mengawasi satu per satu orang yang masuk melalui pintu itu. Mengharapkan sosok tegap dengan rambut gondrong mencapai pundak akan muncul melewati pintu tersebut. Aku menunggunya. Mata ku tak jeli-jeli menatap daun pintu masuk gereja tersebut. Seseorang datang, bukan dia. Seorang lain datang, bukan dia. Seorang lain lagi datang, bukan dia. Hingga ekaristi selesai dia tidak juga muncul dari balik pintu tersebut. Dia tidak datang.


* * * *

          Hari minggu sore lain bergulir. Aku masih pada posisi yang sama dimana aku selalu menantinya. Mengharapkan kali ini dia datang, atau bahkan duduk disamping ku. Setelah selesai berdoa, aku mulai berjaga-jaga. Menatap pintu masuk gereja tersebut untuk menyambut kedatangannya. Aku tidak perlu menunggu lama. Selang dua menit, dia muncul dari balik pintu tersebut. Aku segera berpaling. Tidak ingin ketahuan kalau sedari tadi aku menunggunya. Dengan berpura-pura sibuk mebaca teks misa yang telah aku genggam, aku memainkan mata ku. Melirik-lirik mencari tahu kemana dia akan duduk. Dia berjalan ke arah ku. Sungguh tak diduga dia memutuskan mengambil tempat duduk tepat disamping ku. Aku pun tersenyum sembari mempersilakan dia duduk disamping ku. Dag dig dug. Darah ku berdesir deras ke seluruh tubuh ku. Oooh.. tercium oleh ku, betapa harumnya parfum yang dia kenakan. Semakin membuai ku dan membuat ku tak bergeming. Terpukau. Terpesona oleh sosok yang kini bersanding di samping ku. Aku tertunduk, kembali berpura-pura asik membaca teks misa yang aku genggam. Aku mengintip dirinya. Menikmati aroma parfum dari tubuhnya. Amboi. Dengan kemeja bemotif kotak-kotak yang dia biarkan terbuka begitu saja sehingga nampak kaos cerah yang dia kenakan membuatnya semakin terlihat cool. Kulitnya bersih, lebih putih dari kulitku yang lebih dominan warna cokelat tua. Sebuah gelang karet hitam melingkar dikanan kirinya, sementara tangan kanannya dibiarkan jam tangan yang menghiasinya. Serasi. Ekaristi pun di mulai. Dia berdiri sambil menyibakkan rambutnya. Beberapa kali dia menyibakkan rambutnya yang gondrong kemerahan tersebut. Aku pun turut berdiri disampingnya. Rupanya dia cukup tinggi. Terbukti aku hanyalah setinggi pundak dia. Aku merasa saat itu aku berdiri disisi dia.
          Kami pun kembali duduk. Aku tidak berani menatapnya, seolah aku menatap mata orang lain. Aku lebih banyak menunduk. Ekaristi berjalan begitu lamban aku rasakan. Ahh… aku menguap. Rupanya rasa kantuk mulai menggoda. Tidak berlangsung lama dia pun menyusul ku. Menguap. Bahkan aku melihat dia menguap berkali kali. Aku tersenyum sempit.
          Akhirnya ekaristi pun usai. Aku segera meninggalkan gereja tersebut, sambil memuaskan untuk menatapnya sejenak. Lalu bergegas menuju goa yang berada di sekitar gereja tersebut untuk berdoa. Seusai berdoa, aku kembali ke tempat parkir, bersiap untuk pulang. Apa dia sudah pulang? Aku mencarinya. Barangkali dia masih berada di sekitar gereja tersebut. Aku ingin memandangnya. Sekali lagi. Melihatnya. Namun, gereja mulai nampak sepi. Dia tidak terlihat. Aku putuskan untuk pulang karena hari mulai larut malam. Sepeda motor telah siap menanti ku untuk pulang, aku pun bergegas menghampiri sepeda motor ku tersebut. Baru beberapa detik pantat ku menyentuh jok sepeda motor tersebut, tiba-tiba tercium aroma khas yang tak asing lagi bagi ku. Elegan. Kharismatik. Dia ulurkan tangannya pada ku. Aku menyambutnya. Begitu hangat.

                                                                          Yogyakarta, 11 Maret 2012
                                                                              Hesti Kurniati


Tidak ada komentar: