Ada Apa dengan Valentine?

Valentine?
Tentunya hari itu sudah tidak asing lagi bagi semua orang, tentunya para kaum muda. Banyak orang mengangap hari itu sebagai “hari kasih sayang”. Hari untuk berbagi cokelat, permen atau  kue yang bernuansa manis, sebagi lambing manisnya kasih sayang itu sendiri. Warna pink pun kemudian
menjadi dominan dihari itu, apalagi unntuk mereka yang berkasih. Memberi kado kecil berwarna pink seolah sudah menjadi kewajiban bagi mereka yang berpasangan. Hari itu bukan berarti dikhususkan bagi mereka yang “berpasangan” saja. Seseorang yag single pun bisa berbagi cokelat sebagai tanda kasih bagi sahabatnya, ataupun bagi anggota keluarga yang mereka sayangi. Namun, hari Valentine telah menuai banyak kontrovesi di kalangan masyarakat umum. Banyak khalayak yang memperdebatkan “masalah” yang terkait hari Valentine terssebut. Bahkan di jejaring social pun tak kalah ramai memperbincangkan mengenai hari tersebut. Ada seorang teman saya yang saat itu posting seperti ini “hanya iblis dan setan yang merayakan hari Valentine”, “Valentine itu perayaan bagi kaum katholik, kenapa kaum islam juga merayakannya?”, “kasih sayang itu tidak hanya untuk satu hari saja, namun untuk setiap hari”, kasih sayang itu bukan dengan sebuah cokelat”, dan masih banyak lagi mereka yang memperdebatkan tentang Valentine. Apapun perspektif seseorang mengenai Valentine yang konon katanya di sebut “hari kasih sayang”, itu tidaklah salah. Kasih sayang memang tidak hanya dirayakan dalam sehari saja, tidak hanya diperuntukkan tanggal 14 Februari saja, kasih sayang juga tidak mesti dilambangkan dengan berbagi cokelat. Merayakan tanggal 14 Februari dengan berbagi cokelat juga bukan berarti bahwa mereka percaya dan menyakini bahwa ada sesuatu dibalik hari tersebut. Barangkali mereka hanya ingin lebih menunjukan kasih sayangnya kepada mereka yang mereka kasihi. Berbagi bukanlah suatu kesalahan. Banyak diantara mereka yang justru mengelar event besar dan bernuansa sosial dihari tersebut untuk berbagi.

Beginilah mereka memaknai “hari kasih sayang”

Saat itu, sekitar pukul 11 siang, saya pulang dari kampus dengan mengendari sepeda motor. Mulanya saya ingin melewati jalan yang setiap hari saya lalui, namun sungguh tak sadar karena asyik menikmati keramaian kota Jogja saat itu, saya malah melewati jalan yang seharusnya saya lalui. Lantas saya teruskan saja perjalanan saya, malas untuk putar balik. Dan akhirnya saya lewat jalan lain. Saat itu saya melewati Malioboro dan saat sampai di perempatan Monumen Serangan Umum 1 Maret saya berhenti karena saat itu lampu merah menyala. Lampu merah menyala cukup lama, dengan sabar saya menunggunya dibawah terik matahari yang menyengat. Saat itu saya berhenti agak jauh dari garis depan pemberhentian karena melihat sebuah mobil polisi. Aku memang menghindarinya karena takut akan terjadi sesuatu. Mobil polisi tersebut dikerumuni orang banyak, bahkan ada yang membawa kamera dan mengambil foto. Aku memandangkan dengan wajah kebingungan. Apa yang terjadi?, pikir ku. Kerumuan orang banyak itu kemudian berpindah ke salah seorang pengendara sepeda motor. Rupanya ada seseorang mengenakan pakaian monyet sehingga nampak seperti seekor boneka monyet besar, sementara itu beberapa orang lain membawa kamera dan mengambil gambar.  Tiba-tiba kerumuan orang tersebut menghampiri ku. Saya agak terkejut. Seseorang yang berpakaina monyet tersebut menyodorkan tangannya dan menawarkan sebuah pisang kecil. Mulanya saya kebingungan dan tidak mengerti apa yang dimaksud olehnya. Lantas saya mengambil pisang tersebut sambil tersenyum dan mengangguk mengucapkan terima kasih. Ternyata di bawah pisang tersebut terdapat sebuah stiker, dan dia menawarkan stiker tersebut, saya pun mengambilnya. Dia mengangguk dan berlalu menghampiri pengendara lain serta melakukan hal yag sama. Saya sempat melihat stiker tersebut, tertulis "HEY HUMAN!! PLEASE SAVE US" SAVE? DELETE? YOU DECIDE!
Dan lampu hijau menyala, saya berlalu dan sempat membaca tulisan pada sebuah spanduk pink yang terpasang di pinggir jalan "LOVE FOR ALL SPECIES".

Apa maknanya?
            Hari kasih sayang atau mereka biasa menyebutnya sebagai hari Valentine merupakan tanda atau peringatan untuk berbagi kasih. Walapun pada awalnya hari valentine memiliki sejarah yang dianggap lazim, namun dimasa kini berusaha untuk mengubah paradigma keburukan dimasa lalu tersebut dengan mengangkatnya menjadi hari untuk berbagi kasih sayang. Dengan adanya hari tersebut diharapkan akan selalu ingat bahwa kasih sayang merupakan suatu syarat utama bagi kehidupan. Kasih sayang memang dapat dirayakan setiap saat, tidak hanya berlaku sesaat dalam satu hari saja dan tidak mesti dilambangkan dengan sebuah cokelat. Kasih sayang dapat diungkapankan dengan membagi apa yang dimiliki oleh setiap pribadi manusia, yaitu kasi itu sendiri. Merayakan hari kasih sayang bukan merupakan sebuah perbuatan dosa atau kesalahan, toh mereka berbagi kasih, yang kemudian diharapkan akan terus berlangsung setiap waktu tidak hanya saat tanggal 14 Februari tersebut. Saat terdapat seseorang yang merasa dilupakan dan ditinggalkan atau bahkan tidak dipedulikan, mereka dapat merasa kasih sayang kembali dari orang-orang yang peduli dan berkenan berbagi kasih sayang dengan mereka. Membagi kasih sayang tidak harus denga  mereka yang mengasihi kita, namun lebih memandang mereka yang kurang mendapatkan kasih. Tidak harus memberi cokelat pada sang pacar, tidak mesti cemburu tidak mendapat sebatang cokelat pun dari seseorang, yang terlebih penting ,  bagaimana kita memaknai kasih sayang bagi seseorang? Bagaimana memberi “sebatang cokelat”  sebagai bukti manisnya kasih sayang itu? Seseorang akan lebih dikenang melalui perbuatan dan tindakan yang dilakukan.

LOVE FOR ALL SPECIES!






Tidak ada komentar: